Ekonomi
Trending

Gen Z dan Milenial Cepat Miskin Gegara Doom Spending

Sumber foto: pexels

JAKARTA – Belakangan ini muncul istilah baru, yakni Doom spending. Sederhananya Doom spending ini dapat diartikan sebagai kebiasaan boros. Namun, perilaku doom spending ini dilandasi rasa pesimis terhadap masa depan finansial.

Baik doom spending maupun boros merujuk pada perilaku seseorang yang cenderung menghabiskan uang untuk memenuhi gaya hidupnya. Kebiasaan buruk ini banyak mengintai kalangan pekerja produktif yang kini didominasi generasi Z dan Milenial.

Hal ini terjadi bukannya menabung, mereka lebih memilih menyisihkan uang untuk membeli barang mewah, bepergian, hingga pakaian bermerek yang sedang tren.

Psychology Today menjelaskan arti doom spending yakni ketika seseorang berbelanja tanpa berpikir panjang karena merasa pesimis terhadap ekonomi dan masa depan mereka.

Terbukti dari 96 persen warga Amerika Serikat yang merasa khawatir dengan kondisi ekonomi sekarang. Alhasil, seperempat dari jumlah tersebut rela mengeluarkan uang untuk bertindak konsumtif sebagai upaya mengatasi stres.

Akibat perilaku doom spending, Dosen senior keuangan di King’s Business School, Ylva Baeckström memperkirakan generasi Z dan milenial akan menjadi lebih miskin dibanding generasi sebelumnya.

“Generasi yang tumbuh sekarang adalah generasi pertama yang akan lebih miskin daripada orang tua mereka untuk waktu yang sangat lama. Ada perasaan bahwa Anda mungkin tidak akan pernah bisa mencapai apa yang dicapai orang tua Anda,” katanya.

Bahkan Baeckström mengatakan praktik ini tidak sehat dan fatalistis. “Hal ini terjadi karena anak muda terus-menerus online dan merasa terus-menerus menerima ‘berita buruk’. Hal ini membuat mereka merasa seperti kiamat,” ungkapnya.

Baeckstrom mengungkapkan bahwa, salah satu cara utama untuk mengatasi kebiasaan boros adalah memahami hubungan Anda dengan uang. Menurutnya hubungan dengan uang seperti hubungan dengan orang lain, yakni dimulai sejak masa kanak-kanak dan membuat orang membentuk berbagai jenis keterikatan.

“Jika Anda merasa memiliki keterikatan yang aman dengan uang, Anda dapat membuat penilaian yang baik terhadap sesuatu. Anda mengumpulkan pengetahuan dan Anda dapat mengevaluasinya,” kata Baeckstrom.

“Namun jika merasa tidak aman maka Anda cenderung tergoda untuk melakukan perilaku belanja yang tidak sehat ini,” tambahnya.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button